Tari Gandrung: Kesenian Tradisional Banyuwangi yang Memikat dan Bermakna

Keanekaragaman budaya di tanah air memang tidak pernah ada habisnya. Setiap daerah memiliki tarian tradisional yang berbeda-beda dan juga unik. Salah satu tarian tradisional yang ada di Indonesia adalah tari Gandrung. 

Tarian Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang biasa ditampilkan oleh masyarakat sebagai wujud rasa syukur atas panen yang diperoleh. Gandrung adalah bentuk tarian tradisional yang berasal dari kebudayaan suku Osing di Banyuwangi.

Sejarah Tari Gandrung

Tari Gandrung adalah seni pertunjukan tarian tradisional khas suku Osing yang merupakan penduduk asli dari daerah Banyuwangi. Makna dari tarian Gandrung adalah untuk menunjukkan rasa syukur atas panen yang telah diperoleh oleh masyarakat. 

Gandrung dipentaskan berpasang-pasangan antara penari laki-laki (pemaju) atau paju dan penari perempuan yang merupakan penari Gandrung. Kesenian Gandrung sudah ditampilkan sejak ratusan tahun yang lalu. 

Ada beberapa perbedaan versi terkait awal kemunculan kesenian daerah satu ini. Salah satu versi paling populer yang menjelaskan awal kemunculan tari Gandrung adalah berkaitan dengan sejarah pra kemerdekaan tanah air. 

Dikatakan bahwa tari ini muncul setelah rakyat Blambangan mengalami kekalahan telak melawan pasukan Belanda VOC. Sehingga tari ini kemudian ditampilkan dalam rangka untuk mengembalikan rasa optimisme sekaligus menyatukan masyarakat Blambangan yang bercerai berai karena kekalahan sebelumnya. 

Dulunya tarian Gandrung hanya ditampilkan oleh kaum pria saja yang didandani seperi perempuan. Namun seiring perkembangan zaman tari tradisional suku Osing ini kemudian ditampilkan oleh wanita.

Sejarah Penampil Perempuan dalam Tarian Gandrung

Penari Gandrung perempuan pertama yang tercatat dalam sejarah bernama Semi. Semi adalah seorang anak kecil berusia 10 tahun ketika ia menampilkan kesenian Gandrung di tahun 1895. Menurut cerita turun temurun yang dipercaya oleh masyarakat suku Osing, 

Semi sebelumnya menderita penyakit yang parah. Orangtuanya sudah sangat kebingungan untuk membawa Semi berobat. Saat Semi masih dalam kondisi sakit, ibunya pun berjanji bahwa jika Semi sembuh, ia akan dijadikan sebagai Seblang. 

Baca Juga :  Sejarah dan Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

Maka ketika Semi sembuh ibunya benar-benar menjadikan Semi sebagai seblang yakni penari Gandrung perempuan. Dulunya tari Gandrung hanya ditarikan oleh kaum pria yang didandani sebagai wanita. Maka Semi memulai periode penari Gandrung wanita sejak saat itu. 

Adik-adik perempuan Semi kemudian mengikuti jejak kakaknya menjadi seorang penari Gandrung. Mereka pun menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggung. Dulunya penari Gandrung benar-benar dipilih secara ketat dengan hanya membolehkan keturunan penari sebelumnya saja. 

Namun semenjak tahun 1970an, penari Gandrung tidak harus berasal dari keturunan penari sebelumnya. Sejak era ini, banyak gadis muda ikut berpartisipasi dalam pertunjukan Gandrung bahkan menjadi profesi tetap mereka.

Karakteristik Tata Busana Kesenian Gandrung

Sebagaimana dalam kesenian daerah lainnya, tari Gandrung juga memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kesenian tari tradisional dari daerah lainnya. Karakteristik tari bisa dilihat dari tata busananya. Tata busana kesenian Gandrung sendiri mendapat pengaruh dari Kerajaan Blambangan.

1. Tata Busana di Bagian Kepala 

Tata busana penari tidak hanya berfokus pada tubuh saja namun juga ornamen hiasan untuk kepala. Para penari mengenakan hiasan kepala yang bentuknya mirip seperti mahkota kerajaan. Hiasan yang dikenakan di kepala penari ini dinamai omprog. 

Omprog adalah ornamen yang dibuat dari material kulit kerbau yang sudah disamak dan dikenakan  di bagian kepala. Kulit kerbau yang telah disamak ini kemudian ditambahkan ornamen hiasan warna emas dan merah. 

Omprog diberi hiasan berupa ornamen tokoh Antasena yang merupakan putra dari Bima. Ornamen ekor Antasena ini menempel di omprog sejak tahun 1960an. Dulunya ornamen tersebut tidak melekat namun setengah terlepas sehingga terlihat seperti sayap burung.

2. Tata Busana di Bagian Tubuh

Kerajaan Blambangan di Bali memberikan pengaruh terbesar terhadap desain tata busana tarian Gandrung. Tata busana pada bagian tubuh penari memakai baju beludru warna hitam yang memiliki hiasan dari ornamen kuning emas. 

Baca Juga :  Panduan Lengkap Wisata Banyuwangi untuk Pemula (Update 2026)

Kemudian ditambahkan hiasan mengkilat berupa manik-manik berbentuk leher botol yang melilit dari leher ke dada. Sementara bagian pundak sampai separuh dari punggung penari dibiarkan terbuka. Bagian pinggang dipasangi hiasan berupa sembong dan ikat pinggang. 

Penari selalu mengenakan selendang yang disampirkan di bagian bahunya. Kedua lengan penari dipasangi kelat bahu.

3. Tata Busana di Bagian Bawah

Kain batik dipilih sebagai busana untuk bagian bawah penari Gandrung. Kain batik yang digunakan memiliki corak beraneka ragam. Dari sekian banyak corak batik yang biasa dipakai, corak gajah oling adalah corak yang paling populer. 

Selain itu ada juga batik dengan dasar kain putih bercorak tumbuh-tumbuhan yang memiliki belalai gajah. Dulunya para penari Gandrung tidak mengenakan kaus kaki saat tampil. Namun semenjak tahun 1930an, para penari mengenakan kaus kaki warna putih saat tampil. 

4. Properti Tari

Penari Gandrung membawa properti saat melakukan pertunjukan. Penari membawa satu buah kipas saat melakukan atraksi tari. Kipas ini biasa dipakai ketika menampilkan bagian tertentu dari kesenian Gandrung, salah satunya adalah bagian seblang subuh. Dulunya penari membawa dua buah kipas saat pertunjukan.

Instrumen Musik Pengiring Kesenian Gandrung

Dalam setiap tarian tradisional hampir selalu diiringi oleh instrumen musik untuk membantu para penari menampilkan pertunjukkan terbaiknya. Musik juga akan membuat pertunjukan tari lebih meriah serta memberikan penekanan terhadap pesan yang ingin disampaikan. 

Tarian Gandrung dari Banyuwangi umumnya akan diiringi oleh musik dari instrumen berupa biola, satu buah triangle atau kluncing, sebuah gong atau kempul, kendhang serta kethuk. Pada bagian penampilan tertentu umumnya diselingi dengan musik pengiring dari rebana, angkluk atau saron Bali. 

Untuk menciptakan atmosfer yang lebih semangat dan meriah, pertunjukkan tari umumnya akan ditambahkan musik pengiring dari pengundang atau panjak. 

Baca Juga :  Wisata Banyuwangi Selatan: Surga Tersembunyi di Ujung Timur Jawa

Panjak bertugas untuk memberikan efek lucu serta meningkatkan semangat dari setiap penari ketika pertunjukan. Pemain kluncing umumnya diminta menjadi panjak.

BACA JUGA: Alas Purwo: Sejarah, Rute, dan Wisatanya

Tahapan dalam Tarian Gandrung

Penari Gandrung akan menampilkan sekurang-kurangnya tiga bagian tarian sejak awal hingga penutupan. Tiga bagian tari tersebut terdiri dari jejer, paju hingga penutupan. Berikut penjelasan singkat mengenai tahapan tarian Gandrung:

1. Bagian Jejer

Bagian jejer merupakan bagian awal tarian Gandrung dimana para penari menari sendiri-sendiri atau berkelompok. Pada bagian ini, para penari akan menyanyikan beberapa buah lagu sembari menari solo. 

Pada bagian ini penari tidak melibatkan tamu untuk ikut serta. Tamu laki-laki hanya menyaksikan para penari saja di panggung. 

2. Bagian Maju

Bagian tarian kedua adalah bagian maju dimana penari akan memberi ujung selendangnya kepada para penonton agar ikut menari di atas panggung. Penari pertama-tama akan memilih tamu penting untuk ikut menari.

3. Seblang Subuh

Bagian ini adalah bagian terakhir atau penutup rangkaian tarian Gandrung. Pada bagian ini penari akan memakai kipas untuk tampil. Seblang subuh adalah bagian tarian Gandrung yang masih kental dengan suasana mistisnya.Tari Gandrung merupakan kesenian khas dari Kabupaten Banyuwangi yang ditampilkan pada musim panen raya, acara selamatan seperti khitanan ataupun resepsi pernikahan. Kesenian Gandrung masih satu aliran dengan tari Ronggeng dari Jawa Tengah serta Jaipong dari Jawa Barat.

Rating :

Untuk kamu yang mau liburan ke Banyuwangi, Discover menyediakan berbagai paket wisata Banyuwangi. Paket yang tersedia:

Add a Comment

Your email address will not be published.

Kategori Artikel

Hotel

Open Trip Kawah Ijen Banyuwangi

Hemat & Seru: Kelebihan Ikut Open Trip Banyuwangi Murah

MICE Djawatan 2023

Eksplorasi Banyuwangi: Tujuan Wisata Ramah Rombongan & MICE

Kustom Paket Wisata Banyuwangi

Kustomisasi Paket Wisata Banyuwangi: Hemat Budget & Pas Durasi

Spot estetik Girls Trip Banyuwangi

Girls Trip Banyuwangi: Spot Estetik & Kuliner Hits!

Liburan Hemat ke Banyuwangi: Tips & Destinasi Murah

Liburan Hemat ke Banyuwangi: Tips & Destinasi Murah

Panduan Lengkap Wisata Banyuwangi untuk Pemula

Panduan Lengkap Wisata Banyuwangi untuk Pemula (Update 2026)

Baluran

Itinerary Banyuwangi 3 Hari 2 Malam: Efektif dan Anti Ribet

Kalender Banyuwangi Festival Attraction 2026
6 Daya Tarik Villa Solong Banyuwangi, Bisa Menikmati Sunset!

6 Daya Tarik Villa Solong Banyuwangi, Bisa Menikmati Sunset!

7 Hotel Banyuwangi View Pantai, Tawarkan Panorama Indah!

7 Hotel Banyuwangi View Pantai, Tawarkan Panorama Indah!

Kuliner

sale pisang

Oleh-Oleh Khas Banyuwangi: List Populer yang Wajib Dibawa Pulang

Open Trip Kawah Ijen Banyuwangi

Hemat & Seru: Kelebihan Ikut Open Trip Banyuwangi Murah

MICE Djawatan 2023

Eksplorasi Banyuwangi: Tujuan Wisata Ramah Rombongan & MICE

Kustom Paket Wisata Banyuwangi

Kustomisasi Paket Wisata Banyuwangi: Hemat Budget & Pas Durasi

Spot estetik Girls Trip Banyuwangi

Girls Trip Banyuwangi: Spot Estetik & Kuliner Hits!

Artikel Terbaru

Kapan Waktu Terbaik ke Banyuwangi? Cuaca, Musim, & Info!

sale pisang

Oleh-Oleh Khas Banyuwangi: List Populer yang Wajib Dibawa Pulang

Open Trip Kawah Ijen Banyuwangi

Hemat & Seru: Kelebihan Ikut Open Trip Banyuwangi Murah

MICE Djawatan 2023

Eksplorasi Banyuwangi: Tujuan Wisata Ramah Rombongan & MICE

whatsapp icon